http://www.muhrsitegal.com
17-12-2016 | Dibaca : 462 pembaca

15 Cara Menurunkan Nyeri Karena Imunisasi

15 Cara Menurunkan Nyeri Karena Imunisasi

Ada sebagian orang tua yang selalu menjauh tatkala si anak dilakukan imunisasi. Takut, atau tidak tega sering kali menjadi alasannya. Bahkan beberapa orang tua malah memilih tidak meng-imunisasi-kan anak kesayangannya. Vaksin, tidak hanya diberikan pada bayi tetapi dapat juga diberikan pada anak atau remaja. Fungsi vaksin sendiri membantu dan menjaga anak tetap sehat dengan cara melindungi dari infeksi walaupun tidak menjamin 100% tetapi dapat mencegah agar tidak terjadi infeksi yang serius. Meskipun mempunyai banyak manfaat, vaksin tidak disukai karena banyak menyebabkan 'trauma' pada anak dan mungkin juga pada orang tua. Meminimalkan rasa sakit selama vaksinasi pada masa kanak-kanak dapat membantu untuk mencegah 'trauma', mulai dari 'trauma' akan jarum suntik ketika anak tumbuh besar, perilaku menghindari perawatan kesehatan termasuk ketidakpatuhan terhadap jadwal imunisasi.

Berikut ini ada beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menguranginya:

1. BREASTFEEDING Berdasarkan penelitian yang ada, Breastfeeding dapat meminimalkan nyeri yang ditimbulkan oleh vaksin. Hal ini disebabkan adanya interaksi antara ibu dan anak yang akan membuat anak merasa nyaman seperti memegang anak, kontak kulit ke kulit dan mengisap puting ibu, dengan sendirinya dapat melemahkan respon nyeri. Menyusui harus dimulai sebelum, selama dan setelah suntikan vaksin, sampai beberapa menit setelah suntikan selesai. Awal menyusui yang baik setidaknya dibutuhkan waktu minimal satu menit sebelum vaksin. Memberi susu formula tidak dapat mengantikan menyusui dengan ASI untuk mengurangi nyeri saat imunisasi.

2. Larutan Gula Cara kedua untuk mengurangi nyeri pada saat vaksin adalah dengan memberikan larutan manis (sukrosa). Mekanisme antinyerinya adalah dengan pengeluaran opioid endogen. Dari beberapa penelitian menunjukkan kesimpulan bahwa sukrosa efektif memberikan efek anti nyeri untuk anak kurang dari 12 bulan. Pemberian cairan manis hanya diberikan apabila menyusui ASI tidak dapat dilakukan sebab memberikan ASI memiliki 3 manfaat yaitu menyusui lebih bermanfaat bagi bayi, menyusui tidak diperlukan biaya dan menyusui dapat memberikan efek analgetik. Sukrosa apat dibuat dengan mencampurkan gula 1/4 sendok teh dilarutkan dengan air sebanyak 2 sendok teh. Dapat diberikan melalui sendok, atau dot. Pembuatan larutan ini harus segera sebelum imunisasi dilakukan. Efek antinyeri dari sukrosa timbul setelah 10 menit pemberian. Jangan lupa membersihkan mulut bayi setelah pemberian sukrosa agar tidak menyebabkan kerusakan pada gigi bayi. Sebaiknya pemberian larutan gula ini diberikan pada bayi yang belum mempunyai gigi, karena efek yang dapat ditimbulkan oleh larutan gula adalah karies gigi.

3. Merek Vaksin Beberapa vaksin yang dipasarkan oleh setiap produsen mungkin berbeda. Hal ini disebabkan formulasi farmasi untuk setiap merek adalah unik dan rasa sakit yang disebabkan pada saat injeksi juga mungkin berbeda, meskipun pada dasarnya isi vaksinnya juga sama. Hal ini diakibatkan adanya perbedaan faktor farmasi seperti pH , adjuvan, dan eksipien lainnya.

4. Posisi saat di imunisasi Posisi juga menentukan, berdasarkan penelitian yang telah dilakukan posisi bayi yang digendong lebih sedikit menyebabkan nyeri saat di vaksin daripada yang dibaringkan di tempat tidur. Ini disebabkan adanya interaksi antara ibu dan anak dapat membuat anak merasa nyaman yang pada akhirnya dapat mengurangi persepsi nyeri saat divaksin.

5. Teknik menyuntik secara intramuscular Penelitian yang ada menyebutkan injeksi tanpa aspirasi dan secara cepat dapat menurunkan nyeri saat imunisasi meskipun belum ada bukti secara ilmiah. Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwan vaksinasi secara intramuskular maupun subcutan memiliki tingkat nyeri yang sama.

6. Bagaimana jika anak mendapat lebih dari 1 suntikan saat waktu bersamaan? Pada anak yang diberikan imunisasi dua kali dalam satu waktu, akan terasa lebih sakit pada saat di vaksin yang kedua daripada yang pertama. Menggosok area yang akan divaksin dan setelah divaksin dapat menurun nyeri saat imunisasi

7. Stimulasi Taktil Stimulasi taktil dapat mengurangi rasa nyeri terutama pada anak-anak yang berusia diatas 4 tahun. Stimulasi taktil diberikan dengan menggosok atau menekan sekitar kulit yang akan di vaksin. Menggosok area yang akan divaksin dan setelah divaksin dapat menurun nyeri saat imunisasi tetapi menggosok area yang telah divaksin dapat meningkatkan risiko vaksin reactogenicity.

8. Peran serta orang tua dalam imunisasi Sugesti yang dilakukan oleh orang tua berpengaruh besar terhadap persepsi nyeri yang didapat anak saat imunisasi. Beberapa sugesti yang tidak direkomendasikan antara lain: mengatakan bahwa imunisasi tidak sakit dan meminta maaf seteah dilakukan imunisasi, hal ini malah menyebabkan tingkat kepercayaan terhadap orang tua berkurang karena divaksin tetap terasa nyeri, selain itu tingkat kecemasan anak meningkat dan tidak efektif. Yang disarankan: mengalihkan perhatiaan anak dengan hal-hal yang tidak berhubungan dengan imunisasi, misalnya bicara tentang humor, menenangkan anak.

9. Anastesi lokal. Pemberian anastesi lokal masih menjadi kontroversi, sebab belum ada penelitian pasti yang menunjukkan efektifitas anastesi lokal untuk mengurangi rasa nyeri. Hasil penelitian menunjukkan hasil 50:50 antara dapat mengurangi nyeri dibandingan tidak. Tetapi sebagai langkah antisipasi, penggunaan anastesi lokal sebelum dilakukan vaksin dapat diberikan minimal 1 jam sebelum vaksin dilakukan (tergantung merk krim/salep anestesinya).

10. Distraksi klinisi (cara mengalihkan perhatian yang dilakukan klinisi) Distraksi klinis yang dimaksud disini adalah perhatian yang dilakukan klinisi untuk meminimalisir nyeri saat imunisasi. Dapat dilakukan dengan menggunakan mainan, baik yang ada di tempat praktek maupun yang dibawa oleh pasien.

11. Distraksi anak Distraksi anak dapat dilakukan pada anak berumur lebih dari 3 tahun. Distraksi anak dilakukan oleh anaknya sendiri yang akan diimunisasi dengan cara stimulus baik melalui suara, menyanyi, melihat gambar, bermain maupun keduanya tanpa menggunakan alat bantu.

12. Teknik bernafas Relaksasi dapat dilakukan dengan teknik bernafas dalam kemudian buang nafas secara perlahan. Teknik bernafas ini dapat dilakukan pada anak lebih dari 3 tahun.

13. Sugesti sederhana dengan kalimat : 'ini tidak akan sakit' Penggunaan kalimat 'ini tidak akan sakit' ternyata tidak efektif dalam mengurangi rasa nyeri setelah vaksin. 14. Teknik mendinginkan kulit Mendinginkan kulit dengan es setelah vaksin efektif pada anak lebih dari 6 tahun. Karena rasa nyeri setelah vaksin dapat dikaburkan dengan rasa dingin meskipun masih terjadi kontroversi pada penggunaan es ini. Pada anak kurang dari 3 tahun, rasa dingin sering diartikan sebagai rasa sakit atau malah membuat anak fokus di tempat diberikannya rasa dingin. 15. Pemberian obat minum anti nyeri Penggunaan antinyeri seperti asetaminofen atau ibuprofen dapat mengurangi rasa nyeri akut saat vaksin.